Khilafah adalah janji Allah pada setiap muslim yang beriman bahwa kelak akan tegak kembali untuk yang kedua kalinya. Sebagaimana Allah katakan dalam firmannya di surat An-Nur: 55, bahwasannya Allah akan memenangkan agama Islam di atas agama-agama yang lain. Bisyarah (kabar gembira) dari Rasulullah pun cukup gamblang menyatakan akan datangnya kembali masa kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian.

Rabu, 27 Maret 2013

musibah namun tidak bersabar,

Oleh: Rayhan Imam






قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فٌوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةً وَ مُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةً - مسلم
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda,”Tidaklah dari seorang Muslim yang tertusuk duri hingga apa-apa yang lebih berat darinya, kecuali dicatat baginya derajat dan dihapus darinya dengan hal itu kesalahan (Riwayat Muslim).

Dari hadits ini, para ulama berkesimpulan bahwa segala musibah yang menimpa seorang Muslim, maka itu akan mendatangkan balasan berupa pahala dan pengampunan terhadap dosa.
Namun para ulama berselisih mengenai sebab balasan, jumhur ulama berpendapat bahwa balasan diberikan karena rasa sakit yang ditimpakan kepada seorang Muslim dan sebagian ulama menilai pahala datang atas kesabaran (lihat, Faidh Al Qadir, 5/634).

Maka bagi jumhur seorang yang terkena musibah namun tidak bersabar, maka ia tetap memperoleh pahala. Namun jika ia bersabar maka ia memperoleh pahala musibah juga memperoleh pahala atas kesabaranannya. Sedangkan menurut ulama lainnya, jika yang terkena musibah bersabar maka ia memperoleh pahala, namun jika ia tidak sabar maka ia tidak memperoleh pahala apa-apa.
Walhasil, apa-apa yang menimpa seorang Muslim dari musibah, maka hal itu tidaklah selalu merugikan dirinya, karena ada pahala yang diperoleh, lebih-lebih jika ia bersabar dalam menghadapinya.


anak Adam sebagai permisalan terhadap dunia



قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ مَا يَخْرُجُ مِنَ ابْنِ آدَمَ مَثَلاً لِلدُّنْيَا-الطبراني
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan apa yang keluar dari (badan) anak Adam sebagai permisalan terhadap dunia.” (Ath Thabarani, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Al Allamah Al Munawi menjelaskan bahwa maksud dari “apa yang keluar dari anak  Adam” adalah air kencing dan tinja.
Sedangan Az Zamakhsyari sendiri menjelaskan makna hadits ini, bahwa makanan meskipun manusia berpayah-payah dalam mengolahnya hingga bentuknya bermacam-macam dan menggugah selera, namun semua jenis makanan itu akhirnya berubah menjadi hal yang menjijikkan, demikian pula nasib dunia yang penuh dengan hal yang menggiurkan ini.
Maka Al Munawi menyimpulkan bahwa syahwat manusia terhadap dunia seperti syahwat manusia terhadap makanan yang akan sirna setelah makanan itu berada dalam perut. Demikian pula syahwat terhadap dunia, ia akan berubah manjadi hal yang dibenci dan menjijikan ketika seorang berada dalam proses kematian.
Selaras dengan hadits di atas, suatu saat seorang shufi  berkata kepada para sahabat mereka,”Mari kita bertolak, agar aku memperlihatkan kepada kalian apa itu dunia.” Saat mereka sampai di sebuah tempat pembuangan sampah, shufi itu berkata,”Lihatlah, buah-buahan kalian, ayam-ayam kalian dan manisan-manisan kalian.” (lihat, Faidh Al Qadir, 2/274)

 Oleh: Rayhan Imam